Rabu, Maret 05, 2014

Meraih Gunung Sumbing

It's me again, kembali berbagi pengalaman yang lain dari sebelumnya. Trip kali ini saya ke gunung! Ya, mendaki gunung. Saya bersama empat rekan lainnya yaitu Gathot Dhuto, Urfan Fifaldi, Novita Hemalini, dan Lanang Samudera berangkat Jumat 21 Februari hingga 23 Februari 2014. Sebenarnya ada lagi satu sahabat saya yang biasa trip bareng, tapi doi batal join karena sakit. Sayang sekali dan saya kecewa doi nggak ikut, rasanya pengen gigit kuping. Trip must go on anyway. 

Meeting point di Terminal Bus Pasar Minggu menggunakan bus Sinar Jaya tujuan Wonosobo, yang kemudian tiba pukul 6 pagi keesokan harinya. Menemukan Indomaret di dekat terminal, kamipun bersih-bersih, belanja pasokan, dan re-packing. So far so good, so far so excited.

Re-packing, Indomaret rasa rumah
Nunggu dipungut orang hahaha nggak deng, nunggu bus

Kami menunggu mini bus yang lewat untuk menuju basecamp Gunung Sumbing. Fyi, semua bus yang lewat melewati jalan yang sama karena hanya ada satu jalan protokol alias jalan utama dan tidak bercabang. Perjalanan ditempuh sekitar satu jam dengan jalanan yang makin-lama-makin-naik-keatas dan udaranya semakin sejuk. Kami pun tiba di Dusun Garung yang terletak di Desa Butuh, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo tempat dimana basecamp berada. Sesampainya, kami makan pagi terlebih dahulu di warung nasi untuk isi tenaga, beli gorengan tahu 10 buah, dan 2 ikat pisang untuk cemilan hahaha. Pukul 9 kami berangkat dan pendakianpun dimulai.

Terms, Rules, and Conditions of Mount Sumbing
5 cm ala-ala 
Ready Steady Go! Baca doa dulu sebelum berangkat. Kaki siapa tuh yang buluan, geli liatnya~
On our way
Tampak Gunung Sindoro di belakang kami. Someday ya, someday :)

Kami memulai trekking bersama pendaki lain asal Jogja yang kemudian berpisah di pertigaan karena kami memutuskan menggunakan jalur baru sedangkan mereka lewat jalur lama. Saat melewati desa, saya bertemu gerombolan anak-anak TK yang LUCU BANGET! Mereka 'mengerubungi' kami sambil minta tos dan mereka berisik banget! Berasa artis dadakan hahaha. Saking semangatnya bertemu pendaki kece macam saya dan semangat minta tos, kamera saya pun juga di tos dan kebanting! Aduh dek ampun saya! But they were too cute, how can be I angry with those cuties?

Adik-adik kecil yang heboh
My precious moment :) Aaaaa!

Melanjutkan pendakian, kami melewati pohon-pohon indah yang menjulang tinggi dan perkebunan masyarakat setempat. 

Melewati perkebunan yang ciamik. Ambo sanang bana!
My favorite couple yang sudah naik gunung dimana-mana sedang istirahat, Lanang dan Novita
Masih jauh~

Ikan cucut makan curut, lanjut! Setelah istirahat sebentar dan makan pisang satu-satunya yang bisa dilihat di foto diatas (haha), saya dan tim melanjutkan pendakian. Akhirnya bertemu tanah juga yang artinya ready masuk hutan. 

Di tengah perjalanan rintik hujan mulai turun, mau tidak mau kami harus memakai ponco dan jas hujan. Namun beberapa saat kemudian hujan deras! Terpaksa kami berhenti sebentar memasang fly sheet dan berteduh sambil makan gorengan tahu hasil bawaan inisiatifnya Gathot. Tahu rasa pizza, enak banget huhuhu.

Berteduh

Hujan mereda dan perut sudah terisi tahu rasa pizza, kami kembali melanjutkan pendakian. Tidak jauh setelahnya kami menemukan sungai tapi sepertinya tidak bisa di konsumsi. Sungainya cukup kering dan debit airnya sedikit sekali.

Sungai Sumbing yang kering
Diujung sana langsung jurang, tuh yang itu tuh
Tiba pos 1 alala yeyeye. Konyol abis gaya gue.

Sejauh ini seru tapi cuaca saat itu cukup disayangkan karena mendung banget dan pergerakan agak ribet karena saya pakai ponco ala Rama Ipama. Di ketinggian sekitar 2700 mdpl (menurut peta) dan hampir tiba di pos 2, tiba-tiba hujan kembali turun dengan derasnya. Kami kembali memasang fly sheet dan berteduh, namun ternyata hujannya rada kampret karena nggak berhenti juga. 

Sekitar satu jam menunggu hujan dengan posisi berkumpul di bawah fly sheet sambil kedinginan, tiba-tiba ada kilat di depan mata! Untuk sedetik saya kira ada yang fotoin kami tapi siapee jugee yang iseng. Beruntung kami dikelilingi pohon-pohon tinggi dan at the same time, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan perjalanan dan kembali ke basecamp. Saat itu juga jalur trek yang dilalui dibanjiri oleh air hujan kiriman dari atas. Sayangnya saya lupa foto. Tapi memang, perjalanan dari turun hingga tiba di basecamp, hujan masih saja turun dengan teganya :(

Sungainya meluap! Tadi kering sekarang merinding. Kepeleset sedikit mati sudah huhu
Enggak kecewa koook enggaaaak (1)
Enggak kecewa koook enggaaaak (2)
Enggak kecewa koook enggaaaak (3)
Deras bok
Mount Sumbing's waterfall 
Quote that day: tolong menolong lah kamu dalam kebaikan dan kesusahan

Tiba di basecamp, kami langsung mengisi perut, mengahangatkan tubuh, bersih-bersih, dan packing ulang karena Gathot punya rencana tiba-tiba lanjut ke daerah Dieng untuk mendatangi Gunung Prau. Cerita selanjutnya dan selengkapnya mengenai trip Gunung Prau, klik DISINI.

Overall, walaupun ada rasa kecewa tidak bisa mendaki sampai puncak, tidak bisa lihat sunset, sunrise, dan gunung-gunung tetangga dari atas Sumbing, alam tetaplah alam. Alam saat itu belum berpihak baik pada kami. Alam memang memberi keindahan tapi saat alam sedang tidak baik even marah, manusia lah yang harus memahami dan mengerti. Kalau kata orang-orang, gunung dan puncaknya nggak akan kemana. Oke, someday ya, Sumbing :)



With curiosity,
Melinda R.


Note:
  • Bus Sinar Jaya ekonomi Ps. Minggu - Wonosobo : Rp 70.000,-
  • Charger elektronik di basecamp Gunung Sumbing : Rp 1.000,-/gadget/sekali pakai

-

Tidak ada komentar: