Sabtu, September 25, 2010

Fall in love with Tana Toraja

Hello, bulan September 2010 ini saya jalan-jalan ke Pulau K, yaitu pulau Sulawesi. Saya hanya berputar-putar di Sulawesi Selatan, yakni Makassar, Pare-Pare, Rappang, Enrekang, dan Toraja. Saya juga sempat mampir ke Sulawesi Tenggara (Kendari) karena ada tante tersayang menikah disana.

Overall, yang benar-benar bikin terpesona adalah Toraja. Kalian tau kan Toraja? Yang nggak tau kebangetan. Kalau kalian ke Taman Mini dan lihat rumah adatnya Sulawesi Selatan, itu kepunyaan Toraja. Rumah adat itu disebut Tongkonan. Saya akan bercerita sedikit, pada poin-poin utama.

Saya dan keluarga Bugis saya yang doyan berpetualang, ke Toraja dengan perjalanan darat sekitar 8 jam dari Makassar. Jalannya naik turun dan belok-belok, semakin lama semakin naik karena Toraja berada di dataran pegunungan.

Tempat menyimpan lumbung padi
Di seberang lubung padi ini ada Tongkonan (rumah adat Toraja) yang berderetan dan besar sekali! Sebenarnya kita hitungannya sewa dan harga permalamnya mahal banget! Tapi karena yang punya Tongkonan ini adalah mahasiswinya om saya, jadi dikasih cuma-cuma deh :). Padahal rumah ini hanya terbuat dari kayu, nggak ada tv, nggak ada kamar mandi, cuma ada listrik, tapi kenapa mahal? Itulah adat. 

Tongkonannya sendiri (katanya yah) bisa mencapai Miliaran rupiah. Dan memang sudah berdiri (katanya lagi yah) 300 tahun tanpa renovasi besar. Tongkonan ini besar, hebat, tanpa paku sama sekali, dan hanya menggunakan sistim pasak. Bayangin sama gedung bertingkat yang menggunakan teknologi sangat canggih, tapi bisa rapuh juga karena gempa. Dibandingkan dengan rumah jaman dulu yang sangat kokoh tanpa paku sekalipun. Awesome!

Ini dia Tongkonan yang saya tinggali
Berbicara tentang masyarakat Toraja itu unik. Keren. Saya akan beritahu sedikit informasi yang saya dapat dari sang om seorang arkeolog yang sangat mencintai Toraja itu, dengan sedikit kesotoyan saya:

  • Masyarakat Toraja mengubur mayat mereka bukan dibawah tanah, tapi diatas bukit. Alasannya semakin tinggi tempat kubur mereka, maka akan semakin tinggi pula derajatnya. Itupun harus mengikuti serangkaian upacara kematian dahulu minimal 7 hari dengan step-step yang berlaku. 
  • Saat upacara kematian terdapat tradisi menggorok leher kerbau, dan tanduknya dipajang didepan Tongkonan (rumah) mereka. 
  • Jumlah kerbau yang 'di sembelih' minimal kira-kira 26 ekor kerbau untuk para bangsawan. 
  • Satu ekor kerbau mencapai ratusan juta rupiah. Baru satu ekor loh! 
  • Terdapat kerbau dengan ciri khas tertentu yang disebut "Tedongbonga", dengan kulit berwarna putih/pink, yang diyakini membawa keberuntungan. Harganya bisa mencapai 200an juta rupiah. 
  • Adapun masyarakat Toraja yang jika belum sanggup untuk membuat upacara dikarenakan keterbatasan biaya, mayat dari keluarga mereka disimpan dirumah sampai uang mereka terkumpul untuk upacara pemakaman itu. 
  • Di Toraja yang namanya tengkorak tergeletak sudah sangat biasa.
  • Masyarakat Toraja mengukir tebing-tebing berupa kamar-kamar kecil untuk menyimpan mayat. Bikinnya manual, tanpa mesin apapun. Bayangin bisa setahun lamanya untuk jadi satu ruangan kecil itu. 
  • Masyarakat Toraja sebagian besar sarjana dan sangat giat. Terbukti dosen Teori Ekonomi Makro saya, Ubaldus Upa, lulusan dari Boston University.
  • Masyarakat Toraja sangat menjaga tradisinya yang kaya dan unik.
  • Masyarakat Toraja hidup sederhana, tapi sebenarnya mereka tajir banget 
  • Aku cinta Toraja.

Itu baru beberapa fakta yang bagi saya sangat unusual dan mengagetkan, dan masih ada banyak fakta yang bikin terpesona. Disana, kebanyakan saya ke goa-goa, kuburan gantung, kuburan pohon, dan lainnya.Mistik, seram, unik, kagum, nggak percaya, semua jadi satu. Berkali-kali saya bergumam "Sumpah keren abis!", sambil jepret sana-sini.

Kuburan seorang profesor
Kuburan pohon, didalam pohon itu isinya mayat bayi

Itulah secarik dua carik hal yang bisa saya share dan saya hanya bisa bilang bahwa AKU CINTA TORAJA!! Bagi yang lagi ngetrip di Sulawesi Selatan nggak ada salahnya cicip-cicip kaki di Tana Toraja!



Dukung Toraja masuk sebagai The World Heritage ya! Saat ini sedang pengajuan proposal, dan mudah-mudahan dunia mengenal budaya Indonesia dengan keanekaragaman yang dimiliki dan juga pemerintah tidak bodoh terus dengan membiarkan aset kita, sehingga tidak dicuri lagi sama negara lain :)

Ohiya, sebenarnya saya datangi semua spot-spot pemakaman dan goa, tapi dokumentasi foto saya hilang, hiks. 


Love Toraja,
Melinda R.

-