Selasa, Februari 04, 2014

Celebrate Coming Up 2014 With The Dolphins

Saya melakukan sesuatu yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yaitu merayakan tahun baru 2014 di sebuah pulau terpencil! Lucky me!

Salah satu sahabat saya mengajak ke Kiluan Bay (atau orang-orang biasa menyebutnya Teluk Kiluan), kali ini, merayakan tahun baru disana dengan cara backpacker-an. Teluk Kiluan terletak di Pekon (Desa) Kiluan Negeri, kecamatan Kelumbayan, kabupaten Tanggamus, Lampung Selatan, Sumatera.

Singkatnya kami berdelapan dan percaya atau tidak, perempuan semua! Mental kami tidak tumpul, semangat kami tidak menciut, dan nyali kami sebesar truk gandeng. Perlu 'sedikit' perjuangan untuk bisa sampai kesana. Perjalanan ditempuh sejauh 67 km dari Bandar Lampung, namun 35 km terakhir kondisi jalan sangat rusak dimana membuat perjalanan terasa sangat lama dan menyebabkan mabuk darat. Menurut pakar sih perlu 4 jam perjalanan sampai ke Kiluan tapi nyatanya saya menghabiskan waktu 6 jam saja sodara-sodara!

Minggu, 29 Desember 2013

Malam hari setelah makan malam bersama keluarga, saya langsung ke rumah sang sahabat yaitu Rachel Vannesya, dan lanjut ke tempat meeting point di terminal Pulo Gadung. Disana bertemu teman-teman lainnya yaitu Azka, Ristya, dan Nabila. Pukul 23:30 kami naik bus jurusan pelabuhan Merak namanya Bus Murni Jaya. Nunggunya lama banget karena pihak bus memaksimalkan jumlah penumpang (biar nggak rugi kali yeee). Sekitar pukul 00:00 kami pun berangkat! Btw, supir bus disana sadis-sadis banget mulutnya dan maksa! Makin malam makin liar saya rasa, soalnya teman saya Rachel dikatain tikus gara-gara digodain terus doi meletin lidahnya ke supir bus hahaha.


Senin, 30 Desember 2013

Sekitar pukul 02:00 sampai pelabuhan Merak tapi kami harus jalan kaki dulu sekitar 7 menit untuk sampai loket, karena bus nggak bisa lewat. Alternatif lain selain jalan kaki adalah naik ojek dengan bayar Rp 5.000,- tapi rasanya tanggung dan sayang. Dalam keadaan ngantuk dan selarut itu kami jalan kaki ke pintu masuk pelabuhan. Sepanjang jalan terdapat beberapa kios, tempat makan, dan warung yang tetap buka. Sebagian dari mereka menjual keripik pisang khas Lampung.

Kami sampai di pelabuhan Bakauheni pukul 07:00 dan langsung cari bus ke daerah Raja Basa, karena disana sudah ditunggu sepupunya Rachel, dipanggil mas Taufik, yang sudah ready dengan mobil sewaannya. Fyi, sedikit jasa penyewaan mobil di Lampung yang mau menyewakan mobilnya menuju Kiluan karena kondisi jalanannya sangat tidak bersahabat. Itupun kami terpaksa berbohong sedikit mengenai destinasinya hehehe. Perlu hati-hati memilih bus. Supir bus disana agak sembarangan dan kami harus make sure apakah busnya benar-benar ke destinasi yang dimaksud atau enggak. Kami sempat dioper-oper karena mereka tidak bilang ke Raja Basa secara jelas. Kalau sudah begitu anda harus hati-hati karena bisa jadi mereka sedikit berbohong mengenai destinasinya, yang ujung-ujungnya anda harus berjuang lagi cari transportasi untuk sampai ke tujuan yang dimaksud. Repot kan. Tapi untungnya kami menemukan bus yang benar-benar langsung ke Raja Basa.

Sampai di Raja Basa pukul 09:00 pagi masih dalam kondisi ngantuk karena tidur yang sering terputus, kami langsung ke toilet umum untuk buang air kecil dan cuci muka. Kelaperan, kami mampir makan di Rumah Makan Dua Bersaudara (masakan Padang) setelah ketemu mas Taufik dan mobil sewaannya. Supir kami sebutannya Uwa, mobil kami Xenia, dan isinya bersepuluh. Belum lagi ditambah ransel yang sangat banyak dan tiga buah tenda. Dengan kesempitan dan kesemrawutan itu kami siap, bersemangat, dan sedikit pasrah berangkat ke Teluk Kiluan sepanjang kurang lebih 60 km.

Perjalanan melewati sawah, pohon karet, dan terakhir Desa Bali
Welcome! Start being a female backpackers!Azka, Ristya, Rachel, me, Nabila, and Mufidah
Baru sampai gapura. Masih ada 2 km perjalanan darat dan 10 menit perjalanan laut untuk sampai ke Pulau Kelapa yang saya tunjuk itu
Muka mabok darat
Happy faces! Capeknya hilang!

Tiba di Pulau Kelapa, kami langsung mendirikan tenda yang belum pernah kami pasang seumur hidup hahaha. Sempat bingung dan linglung setengah jam, kemudian datanglah Om Gym (sebut saja begitu) yang bantuin masang tenda. Doi ini traveler juga yang lagi liburan sama keluarganya dan doi macho abis! Om Gym berasal dari Lampung, ikut komunitas Trooper Indonesia sama istrinya, dan punya usaha fitness dan gym di Lampung makanya saya panggil Om Gym. 

Nah cowok yang lagi nunduk namanya Om Gym. Makasih om udah bantuin :)
Selanjutnya gimana yaa~
Semua ikut instruksi Om Gym. He is the man
Taraaa! Tendaku istanaku
Menyatu dengan alam dengan camping di pinggir pantai

Setelah ketiga tenda terpasang, semua langsung makan Popmie secara brutal, istirahat sebentar, ganti baju, dan main-main di pantai! Fyi, listrik disini cuma nyala dari jam 18:00 sampai 06:00. Sisanya mati. Sinyal nggak ada, sekalinya ada cuma provider SimPati tapi itupun suka pending. Heaven! Nggak ada sinyal tuh asik. Saya nggak perlu kecanduan buka media sosial dan lebih fokus menikmati keindahan alam di Kiluan. Azeeeek dah Meliiin...

A great shot from Rizky Sultan. Doi temannya adik saya yang nggak sengaja ketemu. Dunia cukup sempit :)
Berhadapan dengan pulau lain :)

Malam tiba, waktunya rebut-rebutan listrik di saung buat charge gadget hahaha. Makan malam sudah disiapkan oleh local people (pesan dulu) dan rasanya enak! Apa karena lapar atau memang enak beda tipis. Malamnya kami ke pantai dan heboh cari plankton yang warnanya biru terang kayak lampu. Keren banget!

Sebagai bayangan, planktonnya berwarna biru seperti gambar diatas. Tapi digambar ini jumlahnya sangat banyak dan berkumpul. Yang saya temukan hanya sedikit, tapi sudah cukup bikin tercengang dan takjub. Gambar dari Google


Selasa,31 Desember 2013

Subuh sudah bangun karena ngejar waktu supaya bisa lihat lumba-lumba horeee! Berasa ikut wajib militer gileee. Pukul 06:00 pagi kami berangkat ke samudera yang jarak tempuhnya satu jam. Kondisi saat itu agak mendung dan sempat gerimis mengundang tapi sama sekali tidak menyurutkan semangat saya. No way! Perjuangan banget ke Kiluan tapi nggak lihat lumba-lumba? No no no. Kami dijemput jukung (sebutan untuk perahu kecil) dan satu jukung hanya boleh diisi tiga orang (empat sama mas-masnya).  

So in ready!
On our way!

Sejam sudah dan kami beneran ada di tengah samudera! Cuaca yang kurang baik bikin ombaknya jadi ganas. Akhirnya yang dicari tiba! Lumba-lumba yay! Banyak sekali lumba-lumba yang berenang, loncat-loncat kecil, muncul ke permukaan, dan itu pengalaman yang nggak bisa dilupakan. Indah. Yang tadinya hampir mabok laut dan kembung gara-gara makan angin berubah jadi heboh, teriak-teriak, dan gesit foto-foto. Kata mas Robis, mas-mas yang antar saya, kalau kecepatan jukungnya semakin besar, lumba-lumbanya jadi kepancing buat berenang dan loncat-loncat di sebelah jukung. Dan ternyata benar! Sepanjang perjalanan itu saya kembali sibuk teriak, sibuk heboh, dan sibuk foto.

A very impressive shot from Riki! Hay Dolphs! Saya sama Rachel sebut Bondan
Hasil jepretan saya nggak ada yang bagus. Sedih abis
Muka-muka happy dan puas

Puas lihat lumba-lumba, saya kembali ke Pulau Kelapa pukul 08:00. Selanjutnya saya sarapan, ngemil Popmie lagi, nongkrong-nongkrong asik, apapun itulah yang penting menikmati hidup menyatu dengan alam ciyeee hahaha. Kemudian pukul 10:00 kami lanjut ber-adventure menuju Laguna, salah satu tempat yang hits di Kiluan. Tempatnya ada di seberang pulau dan harus naik jukung dulu buat nyebrang sekitar 5 menit saja. Perjalanan ke Laguna lumayan lama karena harus menyebrang hutan dan mendaki batu dan tebing raksasa. Rasanya cukup melelahkan tapi percaya deh sepanjang perjalanan saya merasa amaze dengan panorama disana. Batu-batuan raksasa yang jumlahnya banyak berdiri kokoh selagi diterjang ombak besar. Kami mendaki diantara bebatuan itu yang kondisinya tidak cukup aman. Salah sedikit bisa kepeleset, jatuh, terseret ombak, dan parahnya bisa mati. Wow.

Guide kami namanya mas Sansan. Ayok mendaki!
Hati-hati bu Rachel~
Setelah menyebrangi hutan langsung ketemu pantai ini. Tapi untuk ke sampai Laguna perlu mendaki batu dan tebing terlebih dahulu
Oh, that rocks. Teksturnya agak mirip kulit badak, I guess.
Kalau lagi pasang air lautnya bisa 'muncrat' dari lubang ini. Keren tapi berbahaya
Curam
Trekking memakan waktu satu jam

Akhirnya tiba juga di Laguna yang fenomenal itu hahaha! Capek dan ngos-ngosan, tapi ya gitu tiba-tiba rasa capeknya hilang karena pemandangannya luar biasa! Asli, indah banget brooo! Sudah gitu suasananya sepi belum banyak pengunjung yang datang. Suara deburan ombaknya lebih dominan dibanding suara teriakan kami yang heboh (lagi). Setelah minum sambil ngumpulin nyawa sebentar (fyi harus bawa air minum ya!), saya langsung nyebur! Ternyata disana sudah ada Om Gym dan keluarganya yang datang lebih dulu dan berenang bareng deh hehehe. Ohya saya ngefans banget sama Om Gym soalnya doi laki abis! 

Kolam renang alam. Kalau lagi pasang ombaknya ganas banget sampai ngelewatin batu-batunya. Heavenly :)
Tebing pemberhentian terakhir. Langsung loncat!
Bisa berenang sambil free dive. Ada ikan, kerang, dan hewan-hewan kecil lainnya.
The underwater's scenery 

Jadi, Laguna ini semacam 'kolam renang' yang dikepung oleh batu-batu raksasa dimana air di dalam Laguna itu berasal dari ombak besar yang menghantam batu-batu tersebut. Dilihat secara langsung rasanya seperti punya kolam pribadi. Kedalamannya kurang dari 2 meter dan airnya cenderung tenang, so aman bagi siapa saja untuk berenang.

Ombaknya ganas, seganas ibu kos lagi marah
My favorite rocks

Disana benar-benar leisure time! Kami menghabiskan siang hari dengan berenang sepuasnya, foto-foto, menikmati deburan ombak, jalan-jalan di tebing, duduk-duduk diatas bebatuan, ada yang sibuk lihat cowok cakep, ada yang kakinya berdarah kena karang, ada yang nggak bisa berenang gara-gara period, foto-foto lagi, berenang lagi, dan intinya had fun :).

On our way go back to Pulau Kelapa. Tetap hati-hati
A very unforgetable moment. Bye Laguna

Sore hari kami sudah kembali ke Pulau Kelapa. Menunggu hari gelap dan siap merayakan tahun baru, kami berenang di pantai, nongkrong asik, dan menikmati sunset. Hal yang paling saya suka adalah memeluk kayu besar sambil mengambang di laut melupakan perkuliahan sejenak. Malam tiba, kami kembali rebutan listrik untuk charge gadget dan berkumpul di saung sama backpacker asal Palembang. Mereka berenam, tapi yang paling dekat adalah Riko, Enggar, dan Diansyah. Kami bertukar informasi, menceritakan pengalaman masing-masing, sebagainya, dan sebagainya. Link itu perlu dan rasanya senang sekali menambah teman hehehe.

A view from the sea
Berebut ayunan? Nope. Rachel ingin menjerumuskan saya
Thanks Riki for the coke!


Rabu, 1 Januari 2014

Tiga... Dua... Satu..!! Jedyar!!! Tereeeettttt!!! Pesta kembang api dimulai! Sebenarnya sudah mulai sejak pukul 22:00 malam tapi kali ini acara puncaknya! Semua traveler dan backpacker ke pantai merayakan malam pergantian tahun baru. Saya sibuk teriak-teriak pastinya. Setiap pulau menyalakan kembang api dan rasanya kayak perang kembang api, karena pulau di seberang kami juga heboh. Monas? Kalah! Sensasinya beda banget. Lautan selau terlihat setiap cahaya kembang api memecahkan suasana malam. Riki dan keluarganya sangat berkontribusi besar di pesta ini karena mereka paling niat sampai pakai walkie-talkie. Ada satu keluarga-traveler asal Medan yang berkumpul membentuk lingkaran berdoa dengan khusyu dan ada juga chinese-traveler yang merayakan dengan cara mereka sendiri. Wah, diversity in unity. Perbedaan itu mengagumkan :) 

Perlu diketahui ada kebijakan di pulau ini dengan membatasi jumlah pengunjung di Pulau Kelapa, Kiluan. So, perayaan new year terasa private dan nyaman karena tidak banyak pengunjung yang tinggal. Bebas lari-larian, bebas salto, bebas tiduran di pasir, bebas manjat pohon, bebas pura-pura pingsan, bebas sebebas-bebasnya!

Happy new year! Wish I can being a diver this year.  Both of those are belongs to Riki again! He is such as pro! Thank you

Paginya sekitar pukul 10:00 kami bersiap pulang huhuhu. Masih kuraanggg!! Molagee molageee. Yasudahlah kami memang harus pulang dan kembali menghadapi dunia nyata dramatisasi kotasisasi Jakarta. Teman-teman dari Palembang dan Om Gym sekeluarga juga pulang hari ini. Semoga bisa bertemu mereka lagi, someday.

Bye bye Kiluan Bay!!!
Much thanks to Mas Robis. Gonna miss you hahaha

Baru aja jalan tiba-tiba ada mobil mogok gara-gara kehabisan bensin. How come! Mobil-mobil nggak bisa lewat. Akhirnya saya jalan kaki yang jalanannya naik keatas sekitar 1 km menuju gapura karena disitu, thank God, ada warung. Masih sempat-sempatnya ngemil gorengan dan makan pecel, akhirnya jalanan pulih. Menurut gosip sih akhirnya ada yang beli bensin eceran di kampung Bali untuk mobil yang mogok itu. Okelah. Everything's clear, kami melanjutkan perjalanan pulang.

Etdah nih mobil bikin portal di tengah jalan
Mobil-mobil yang menuju pulang terpaksa mengantri

Di kabupaten Pesawaran setelah melewati Pantai Klara, terjadi kemacetan total!! Macetnya berjam-jam sampai mesin mobil dimatikan. Kami mampir ke warung terdekat untuk menghilangkan jenuh, peregangan badan, ngemil, dan sampai buang air kecil dua kali! Disana juga saya bertemu backpackers dari Backpacker Indonesia. Kami sempat mengobrol dan kenalan dengan beberapa dari mereka, namanya Gathot dan Urfan. Menurut ibu yang punya warung, biasa terjadi kemacetan total setiap pasca lebaran dan pasca tahun baru. We were not lucky that day. Akhirnya kami memutuskan untuk putar arah dan melewati desa-desa yang saya nggak tau namanya. Tiba di kota Bandar Lampung sekitar pukul 21:00 dan mampir makan malam dulu. Mabok berat! Muka juga sudah abstrak bentuknya.


Kamis, 2 Januari 2014

Perjalanan belum selesai dan kami lanjut ke Pelabuhan Bakauheni diantar mas Taufik dan Uwa. Thanks to them karena kami nggak perlu naik bus kesana. Sekitar tengah malam sampai, kami naik Feri, dan tiba pagi harinya. Di kapal Feri saya nggak bisa tidur karena ada dangdutan Masya Allah... Tapi itu juga hiburan buat saya dan Rachel karena penyanyinya kocak hahaha. Ngeri brooo. Akhirnya sampai di pelabuhan Merak, kami naik bus menuju terminal Pulogadung, lanjut angkot, dan akhirnya berpisah ke rumah masing-masing.

Melelahkan? Ya. Tapi semuanya terbayar dengan pengalaman pribadi yang nggak bisa dibeli siapapun. Dari trip ini saya mendapatkan teman baru sebanyak 9 orang. Dari trip ini pun saya mendapatkan pelajaran-pelajaran pribadi, salah satunya membawa uang receh itu sangat perlu. Well, terima kasih untuk Kiluan Bay dan terima kasih untuk lumba-lumbanya yang sangat indah.


Love,
Melinda Rachman.

===============END===============

Note untuk harga-harganya:
  • Bus terminal Pulo Gadung - pelabuhan Merak : Rp 30.000,-. ("Harga tengah malam", katanya)
  • Kapal Feri pelabuhan Merak - pelabuhan Bakauheni : Rp 13.000,- masuk ruang eksekutif kena biaya tambahan sebesar Rp 10.000,-.
  • Bus pelabuhan Bakauheni - Raja Basa : Rp 25.000,-.
  • Sewa mobil diantar dan dijemput sampai Kiluan : Rp 1.000.000,-.
  • Biaya sekali makan : Rp 15.000,- (minta dimasakin sama local people, disediakan dalam bentuk prasmanan).
  • Sewa jukung lihat lumba-lumba : Rp 250.000,-/jukung.
  • Sewa jukung sebrang pulau menuju Laguna : Rp 20.000,- PP.
  • Masuk Laguna : Rp 3.000,-
  • Guide ke Laguna : Rp 50.000,- (harus pakai guide karena mereka menunjukkan trekkingnya).
  • Kapal Feri pelabuhan Bakauheni - pelabuhan Merak : Rp 13.000,- masuk ruang bisnis kena biaya tambahan sebesar Rp 6.000,-.
  • Bus pelabuhan Merak - terminal Pulo Gadung : Rp 25.000,-.
  • Angkot terminal Pulo Gadung - tempat berpisah lupa nama daerahnya: Rp 15.000,-/8org.