Showing posts with label JAVA. Show all posts
Showing posts with label JAVA. Show all posts

Thursday, November 20, 2014

Pandang Waduk Sermo dari Kalibiru, Kulon Progo

"Iya mbak, tempat ini jadi rame gara-gara artis Keenan Pearce!"

Apa yang dibilang warga setempat sama dengan apa yang saya alami. Yap, saya tau tempat ini gara-gara lihat account Instagramnya si Keenan Pearce. Gara-gara doi, wisata ini jadi mulai dikenal dan bikin saya jadi heboh penasaran kesini.

Foto fenomenal yang diposting si Keen-Keen saat itu

Desa Wisata Kalibiru merupakan tempat wisata yang berada di atas Waduk Sermo, yang merupakan satu-satunya Waduk di Daerah Istimewa Yogyakarta. Berada di Perbukitan Menoreh dengan ketinggian 450 mdpl, lokasi ini terletak di sebelah barat kota Yogyakarta dengan jarak tempuh kurang lebih 40 kilometer, atau 10 kilometer dari Kota Wates. Tepatnya di desa Hagrowilis, kecamatan Kokap, Kulonprogo.

Denah Kalibiru
Sepanjang perjalanan melewati perbukitan
Welcome to

Disini pendatang bisa melakukan beberapa kegiatan seperti outbond, wisata pedesaan, wisata budaya, wisata pendidikan, wisata keluarga, wisata trekking, dan wisata terapi alam. Namun saya hanya menikmati trekking dan foto-fotonya hahaha.

Siapkan air minum ya, karena diatas nggak ada yang jual. Lagipula bawa sendiri lebih hemat kan?
Go go little trekking

Tempat wisata ini sudah dikelola dengan cukup baik, terbukti dengan sudah adanya fasilitas yang disediakan, seperti areal parkir, kios-kios penjual makanan, mushola, dan toilet umum.

Waduk Sermo
"Memandang alam dari atas bukit, sejauh pandang kulepaskan~"
Keindahan panorama wisata alam Kalibiru


Note:

  • Biaya masuk kendaraan mobil: Rp 3.000,-
  • Biaya naik: Rp 10.000,-
  • *harga per bulan Oktober 2014, dapat naik mengingat harga di bulan September lebih murah*

Sunday, June 15, 2014

Jomblang dan Grubug, Misteri yang Menawan

Berada di senior level dalam perkuliahan artinya saya lagi sibuk-sibuknya menyusun skripsi. Berkat skripsi tersayang inilah membuat orang tua saya, ibu khususnya, meminta agar saya MENUNDA dulu jalan-jalannya. Fokus skripsi dulu katanya.

Semangat terakhir sebelum berhadapan dengan kewajiban

Januari lalu saya menghadiri pameran foto dan diskusi oleh para adventurer, pro photographer, dan travel expert dalam rangka perayaan ulang tahun National Geographic ke 125 tahun, dimana terdapat komunitas Blacktrailers Indonesia dibawah naungan National Geographic Indonesia. Misi mereka adalah "travel with value", dan salah satu tempat yang di datangi adalah Goa Jomblang dan Goa Grubug. Tiba-tiba saya bengong lihat presentasi mereka. Terkesan! Goanya keren banget men dan gara-gara itulah saya memantapkan diri bahwa kedua goa itu harus menjadi trip saya selanjutnya.


Bicara Jogja tidak hanya tentang candi, malioboro, kopi jos, alun-alun, keraton, ataupun pohon beringinnya. Jogja memiliki wisata goa yang menarik perhatian saya dan menjadi fokus saya satu-satunya pada trip kali ini. Jomblang dan Grubug sasaran saya. Sabtu 12 April 2014, mimpi pun terwujud hahaha! Teman trip saya kali ini adalah Rachel Vannesya dan Dio Idham Pamungkas.

Gunungkidul punya banyak sekali tempat wisata pantai dan ratusan goa, diantaranya yang terkenal adalah Goa Pindul, Kalisuci, dan air terjun Sri Gethuk. Tapi saya cari yang sedikit tidak biasa, yang belum banyak didatangi, dan yang keindahannya bikin pengen nangis yaitu Goa Jomblang dan Goa Grubug (kebanyakan orang nyaman menyebutnya dengan Goa Jomblang). Pagi harinya kami berangkat menuju Wonosari, Kabupaten Gunungkidul, yang memakan jarak sekitar 60 km dari pusat kota Jogjakarta, dimana jalannya naik turun dan melewati Bukit Bintang.

Goa Jomblang terletak di Padukuhan Jetis Wetan, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, 8 km timur kota Wonosari atau -/+ 50 km tenggara Jogjakarta. Goa ini merupakan satu dari sekitar 400 goa yang terdapat di kawasan pegunungan karst Gunungkidul. Goa Jomblang merupakan goa vertikal dengan kedalaman 60-90 meter, dimana terdapat goa horizontal yang menghubungkan Goa Jomblang dengan Goa Grubug disebelah utara. Goa Grubug ini nih yang kerennya nggak ada obat!

Untuk terjun ke dalam, dibutuhkan kemampuan melakukan Single Rope Technique sebagai lintasan naik dan turunnya medan-medan vertikal di goa ini. Tapi jangan cemas bagi yang belum berpengalaman, saya pun nggak expert main tali-talian, karena disana sudah ada local people dan penelusur goa terlatih yang baik hati yang akan membantu kita menelusuri kedua goa ini. Persiapan yang perlu digunakan adalah sepatu boot, helmet, headlamp, SRT set yang menempel di tubuh, dan passionate of curiosity yang kuat. Yoi.

Set up! Bukan Tim Bedah Rumah kok, bukan huhu


Goa Jomblang, Pesona Akan Hutan Purbanya

Mulut goa
Naik-turunnya yang hanya menggunakan tali ini dikatrol oleh warga setempat, bukan dengan mesin. Tujuannya memberdayakan sang local people sebagai mata pencaharian mereka yang lain. Beban dibatasi maksimal 150 kg.

Saat menuruni goa dengan sedikit gaya rappeling yang aduhai, saya pun takjub melihat pemadangan sekeliling dari mulut goa hingga sampai di tanah. Perasaan takjub ini yang buat saya tiba-tiba jadi islami mendadak karena nggak henti-hentinya mengucapkan Subhanallah saking bersyukurnya hahaha. Indah dan  pemandangannya langka banget men.

Turun sekali dua! Hahaha. Fun enough (with Rachel)
Down down to earth up to 60 meters. Bapak bertopi oranye terlihat sangat kecil dan disitulah kami akan mendarat

Perbukitan karst, pohon jati yang meranggas, lumut, paku-pakuan, semak, hingga pohon-pohon yang menjulang tinggi tumbuh dengan rapat dapat kita lihat sambil menuruni goa. Hutan disini merupakan area konservasi tumbuhan karena jenis tumbuh-tumbuhan di mulut goa ini merupakan tumbuhan endemik dimana jenisnya tidak lagi terdapat di atas, di daratan luar sana, maupun tempat lainnya. Tali-tali yang biasa Tarzan pakai buat gelayutan juga masih banyak terlihat disini, makanya disebut dengan Hutan Purba. Tipikal hutan jaman dulu gitu lah, dan tentunya harus dilestarikan.

Hutan Purba hobah hobah! 
Tanaman berbentuk cabai tapi bukan cabai. Sudah di periksa di lab namun belum dapat dipastikan apa jenis tanaman ini. Bukti lain betapa beragamnya flora yang kita miliki :)


Goa Grubug (Luweng Grubug), Cahaya Surga Kasat Mata

Penelusuran menuju Goa (Luweng) Grubug dan bersiap masuk ke kegelapan (Rachel in frame!)

Penelusuran pun dilanjutkan menuju Goa Grubug (Luweng Grubug) dengan memasuki mulut goa yang sangaaaattttt besarrrrr! Gile besar banget! Saya harus berjalan dan memasuki lorong goa (goa horisontal) atau bisa disebut sebagai bat tunnel (terowongan kelelawar) sepanjang -/+ 200-300 meter. Sepanjang trekking terdapat batu kristal, stalaktit, dan stalagmit yang indah walaupun kondisi goa sangat gelap.

Psst.. Ternyata di terowongan ini terdapat banyak sekali hewan melata yang buta alias tidak memiliki penglihatan dan masih ada juga hewan yang jalannya mundur. Sangat tipikal dengan hewan purba. Tentu saya tidak bisa lihat karena hanya sedikit sekali penerangan demi menjaga habitat asli mereka. Luar biasa, masih ada loh hewan jenis itu di muka bumi ini.

Di dalam goa horisontal, atau bat tunnel, penghubung goa Jomblang dan goa Grubug
Telusur dan telusur, cahaya Grubug akhirnya terlihat dari jauh

Tak berapa lama berjalan-yang-sangat-pelan-karena-lumpurnya-licin-sekali, mulai terdengar aliran sungai yang sangat deras. Iya, ada sungai di dalam goa di kedalaman -/+ 90 meter! Nggak nyangka. Rasanya pengen teriak saking senangnya tapi bisa-bisa dinding goanya runtuh. But seriously, I got a lil' bit heart attack at my first sight of this amazing scenery.

Istirahat di sudut goa lainnya sambil memandang sungai yang deras di sebelah kiri bawah, dan menangkap momen ini. Couldn't explain more
Silhouette seekers (with Karlin)
Sun chaser with her beautiful ray of light in the world
Manjat napsu! Baju sudah basah kuyup kena tetesan rintik air, padahal di atas tidak hujan
Satu-satunya sumber cahaya disini adalah matahari. Tanpa matahari, semuanya gelap
Cahaya disini nggak menentu. Diatas cerah tapi bisa saja cahaya mataharinya nggak muncul, begitu juga sebaliknya. Jadi kekuatan doa juga diperlukan hehe

Batu putih besar yang terlihat merupakan ikon di goa ini. Perlu diketahui, susunan batu tersebut berasal dari tetesan air yang telah terjadi sejak jutaan tahun yang lalu sampai terbentuk batu sebesar ini. Terbayang seberapa lamanya? Untuk naik ke batunya tidak diperkenankan menggunakan alas kaki demi menjaga keutuhan struktur batunya.

Goa Grubug dahulu juga sebagai tempat pembantaian manusia dan mayatnya dibuang di goa ini saat zaman PKI. Namun sekitar tahun-yang-saya-lupa-berapa, tengkoraknya sudah dibersihkan oleh Cahyo Alkantana dan tim.

Struktur batu putihnya terbentuk dari tetesan air

Banyak sekali informasi-informasi yang membuat saya tidak percaya alias takjub; dimulai dari panjang sungai yang sebenarnya panjang sekali jalurnya untuk bisa sampai kelaut (bisa mencapai 3 hari dengan kecepatan tinggi), bisa cave diving didalamnya, siklus hujan yang tidak menentu, selalu ada hujan di dalam goa, dampak dari musim hujan yang bisa membanjiri goa sampai bisa mencapai mulut goa (tidak bisa saya bayangkan pada poin ini), dan lainnya.

Oh ya, sampai saat ini baru ada satu orang yang bisa menjelajahi sungai didalamnya loh, dia adalah putri dari Pangeran Arab. Kabarnya doi hampir selesai namun bodyguardnya yang nggak kuat akhirnya adventure dia dihentikan. GILA!

Semua informasi yang saya dapat langsung dari Mas Adi sang caver keren, tidak ada di artikel manapun, tapi karena saya pelupa jadinya lupa huhu. Padahal penting!

Lumpur yang masih basah dan sangat licin (April 2014), sejak terjadinya 'banjir dahsyat' (Desember 2013)
Bersama mas Adi si darah Kalimantan yang tinggal di Bali; sang cave expert, underwater photographer. Curiga doi juga cave diver soalnya keren banget huhu! Semoga bisa bertemu lagi


Challenge accepted,
Melinda R.

-

========================

Info:
  • Kereta Bengawan ekonomi ac rute Jakarta (Ps. Senen) - Jogjakarta (Lempuyangan) : Rp 50.000,-.
  • Kereta Fajar Utama bisnis rute Jogjakarta (Tugu) - Jakarta (Ps. Senen) : Rp 195.000,-.
  • Tiket masuk Goa Jomblang : Rp 450.000,-
  • Waktu terbaik menelusuri goa ini sekitar pukul 10.00 - 12.00 WIB, cahaya terbaik ada di bulan Agustus.
  • Jumlah maksimal yang diijinkan masuk kedalam goa ini sebanyak 25 orang/hari, demi menjaga ekosistem didalamnya. Untuk menghindari antrian sebaiknya lakukan reservasi atau mengikuti tur yang menyediakan wisata ke goa ini. 
  • Info lebih lanjut mengenai caving di Goa Jomblang dan Luweng Grubug dapat menghubungi pemilik Jomblang Resort, sekaligus pelestarinya, om Cahyo Alkantana (0811 117 010). Twitter @CahyoAlkantana.

Wednesday, March 12, 2014

Badai Hujan di Puncak Prau

Setelah perjuangan menggapai puncak Sumbing-yang-akhirnya-gagal, yang bisa dibaca DISINI, teman saya, Gathot, punya ide mendadak ke daerah Dieng tepatnya Gunung Prau. Malamnya kami cabut meninggalkan basecamp Sumbing menuju Alun-Alun Wonosobo yang memakan waktu sekitar 1 jam. Suasana Alun-Alun Wonosobo malam itu masih ramai ditongkrongi masyarakat setempat, cukup keren dan rapi sekali tata kotanya. 

Tiba di Alun-Alun Wonosobo dan terdampar, kami menunggu Taksi Avanza sesuai rekomendasi sang 'kenek' bus. Beberapa saat menunggu akhirnya ada juga taksinya! Pukul 21:00 kami meninggalkan Alun-Alun Wonosobo dan berangkat menuju Dieng. 

Terdampar kayak paus!
Horeee dapat juga, semakin malam semakin susah
Tiba di basecamp Gunung Prau hawanya sudah dingin sekali. Biso beku ambo dibuatnyo. Basecamp Gunung Prau berupa indoor tempat main badminton dan cukup banyak pendaki yang bermalam. Tidak perlu mendirikan tenda dan hanya perlu menggelar matras dan sleeping bag, pendaki dapat bermalam di basecamp tersebut.


Pukul 23:00 kami bersiap tidur karena subuhnya kami siap mendaki untuk mengejar sunrise. Udara kala itu sangatlah dingin karena hujan sedang turun dengan derasnya. Matras, sleeping bag, dan kaos kaki rasanya tidak cukkup untuk menghangatkan badan, namun, tetap optimis bahwa besok akan cerah.

Awalnya saya mengira Gunung Prau merupakan gunung tamasya macam Dieng atau Bromo. Ternyata gunung beneran gunung! Ketinggiannya hanya 2565 mdpl namun treknya yang berupa bebatuan dengan kemiringan hingga 70 derajat. Cukup miring. Bermodalkan air putih seadanya, nata de coco satu tumbler, dan roti yang sudah membeku kami tetap mendaki hingga puncak.

Pendakian menuju Puncak Prau sebenarnya hanya memakan waktu 2 jam saja, tapi karena ada saya yang keong, lama pendakian akhirnya menjadi 3 jam hahaha. Tapi jujur, mungkin karena saya kecapekan sisa mendaki Sumbing, kurang tidur, dan kelaparan, fisik saya capek sekali dan kaki saya kena serangan encok.

Spotted! Muka pasrah tertangkap kamera hahaha. Terima kasih Gathot atas foto tidak menyenangkannya

Sampai puncak! Langsung tepar! Mau berdiam diri sambil tidur tapi bahaya bisa memicu hipotermia, akhirnya mau tidak mau bergerak sembari foto-foto. Badan saya kedinginan sampai tangan dan kaki mati rasa. Well actually saat itu cuacanya sedang hujan plus badai (sial dua kali), pemandangan di puncak nggak kelihatan. Padahal kalau cerah, puncak 7 gunung bisa dilihat dari puncak Prau. Ketujuh puncak itu adalah gunung Sumbing, Sindoro, Slamet, Merbabu, Merapi, Ungaran, dan Lawu. Penasaran dan bikin keki! Lagi, keberuntungan belum juga berpihak pada kami.

Photo tells everything right? 
Borderline with an inappropriate words (honestly)
Puncak Prau! :) Padahal kalau cerah bakal keren banget
WHADDUP!
Loncat aja udeh biar hangat
Nikmati Masa Jomblomu Sebelum Datang Masa Jompomu
Best pal nih yang punya dua kepribadian: di bawah saya di jahati, di atas saya di baikin

Well, pengalaman yang menyiksa karena energi terkuras habis ditambah keberuntungan belum berpihak pada kami, namun pengalaman ini seru juga! Niat kami memang tektok gunung makanya tidak membawa keril, tapi ternyata kami terkena badai hujan. Duduk dibawah pohon gemetaran, pasokan makanan sudah habis, dan tidak ada fly sheet untuk berteduh, akhirnya memaksa kami untuk pulang ke bawah. Syukurlah semakin turun udara semakin hangat dan kadang-kadang kami terlindungi oleh tebing-tebing jadi nggak terlalu kena hempasan angin. Ada videonya tapi sayang sekali tidak bisa saya upload.

Irzam, si anak Dieng baik hati yang menjadi teman perjalanan kami

Celana basah kuyup dan kaki kotor kena tanah yang becek, membuat saya sering terpeleset dan jatuh tiba-tiba karena licin hahaha. Asli itu susah dilupakan dan makasih banget buat Irzam, Gathot, dan Urfan yang saat itu mau menolong, menunggu, dan direpotkan oleh saya.

Lihat deh tuh si Urfan nggak pakai alas kaki mirip kuncen gunung
Telaga Warna dari kejauhan :)
Penguasa gunung
"Lihat dong anginnya kencang banget sampai pohonnya goyang inul"

Mendaki turun memakan waktu selama 3 jam lagi plus waktu foto-fotonya. Seluruh kaki saya rasanya sakit sekaliiii. Yang tadinya encok jadi mau patah, tidak bisa jongkok, tidak bisa gerak, balik kanan, baik kiri, jalan cepat, berdiri ke duduk, duduk ke berdiri, naik tangga, dan cara jalan saya berubah jadi mirip ibu-ibu hamil 13 bulan.


Pukul 1 siang Irzam mengajak kami makan siang di tempat makan yang hits namanya Mie Ongklok, berada di-saya-lupa-sekali-nama-tempatnya. Letaknya sekitar 10 menit naik bus dari basecamp dan bisa dilihat pemandangan gunung-gunung disana. Saya suka Gunung Sindoro karena paling keren penampakannya. Pengen foto-foto nggak bisa karena saya meriang dan ibu-pemilik-tempat-makannya sangat baik memberikan saya selimut dan teh khas Sindoro, teh Purwaceng. Katanya supaya meriang saya hilang. Hangat :)


Pukul 4 sore kami kembali naik mini bus sampai terminal Wonosobo, bersiap naik bus Sinar Jaya pulang ke rumah masing-masing. Novita dan Lanang kearah Depok, Gathot kearah Kalideres, sementara saya dan Urfan ke arah Rawamangun. Tapi tujuan Rawamangun ludes kampreeet! Agak kurang informatif juga ini Sinar Jaya, mereka bilang bus berangkat pukul 5 tapi nyatanya pukul 4 sudah cabut. In the end saya dan Urfan ikut Gathot ke Kalideres.

Di bus tidur terus tanpa bosan efek minum antimo, dan tiba di kosan Gathot pukul 8 pagi. Istirahat sebentar, saya dan Urfan pulang kerumah masing-masing naik Commuter Line. Sekian, kaki saya tidak bisa diajak kompromi selama 3 hari kedepan karena masih sakit. Tiba dirumah pukul 1 siang (kayaknya saya yang paling lama sampai rumah), mandi, ketemu kasur dan selimut, dan hibernasi 100 tahun. 

Well, trip yang sangat melelahkan namun seru sekali, pengalaman baru, pelajaran baru, kenal orang baru lagi, teman baru lagi, and another great story in my life. Saya selalu bersyukur dengan kesempatan-kesempatan yang saya alami, kesempatan bisa mengunjungi tempat-tempat indah, dan kepercayaan serta dukungan dari keluarga. Suka dan duka selama trip sama saja, harus diterima, dihargai, dan disyukuri as well.

The day after tomorrow, my aunt-climbers texted me a very sweet words, "Selamat bergabung di dunia nyata, sering-seringlah menyapa alam Mel maka kau akan lebih banyak menikmati dan merasa lebih dekat dengan penciptanya". Aduh tante, bikin saya makin pengen kayak Medina Kamil.


In love with Sindoro scenery from a distance,
Melinda Rachman.



Note:
  • Harga charter Taksi Avanza dari Alun-Alun Wonosobo sampai basecamp Gunung Prau, Dieng: Rp 150.000,-
  • Harga pendakian Gunung Prau : Rp 4.000,-
  • Bus Sinar Jaya AC jurusan Wonosobo - Kalideres : Rp 190.000,-
-